jump to navigation

Pedoman Membeli Asuransi Jiwa dan Reksadana December 6, 2007

Posted by esemelekete in keuangan.
trackback

seperti yang ditulis dalam http://priyadi.net/archives/2007/11/30/pedoman-membeli-asuransi-jiwa-dan-reksadana/

Membeli Asuransi Jiwa

Pertama, tentukan dulu apakah kita memerlukan asuransi jiwa. Jika kita memiliki tanggungan dan/atau hutang yang tidak dilindungi asuransi kredit, maka kita membutuhkan asuransi jiwa. Jika tidak, maka kita tidak membutuhkan asuransi jiwa.

Kedua, hitung berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang diperlukan. Untuk tahap yang ini jawabannya bisa berbeda-beda tergantung dari teknik perhitungan yang dilakukan. Tapi untuk mempersingkat waktu kita pakai cara paling sederhana saja:

  • Cari tahu besar pengeluaran keluarga per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia.
  • Kalikan dengan 10 untuk mendapatkan besar uang pertanggungan yang diinginkan.

Sebagai contoh pengeluaran per tahun jika seandainya tertanggung meninggal dunia adalah Rp 50 juta/tahun, maka uang pertanggungan yang akan kita beli adalah sebesar Rp 500 juta. Seharusnya jumlah tersebut sudah mencukupi untuk menutupi resiko kehilangan penghasilan dari tertanggung selama 20 tahun dengan asumsi pekembangan investasi bersih sebesar 9%.

Ketiga, saatnya untuk mencari produk yang sesuai. Produk yang kita cari adalah ‘asuransi jiwa term life’. Ciri-cirinya:

  • Tidak memiliki unsur investasi.
  • Masa perlindungan relatif singkat, biasanya 5 atau 10 tahun, tetapi ada juga yang 1, 2, 3 dan 20 tahun.
  • Besar premi relatif kecil, sebagai perbandingan, pria 30 tahun yang tidak merokok akan dikenakan premi asuransi sebesar kurang lebih Rp 300 ribu/tahun untuk setiap Rp 100 juta uang pertanggungan.

Carilah keterangan tentang produk yang kita inginkan di beberapa perusahaan asuransi dengan cara mendatangi langsung perusahaan asuransi yang bersangkutan. Walaupun demikian, biasanya nasabah tidak pernah ditawarkan produk term life, melainkan produk lainnya yang memiliki unsur investasi. Untuk itu tanyakanlah secara spesifik: “Saya ingin mencari informasi produk term life (atau asuransi jiwa berjangka) dengan jangka waktu 5 tahun atau kurang dengan uang pertanggungan Rp sekian. Sebagai informasi umur saya sekian tahun,”

Untuk menghindari salah membeli produk, berikut adalah daftar beberapa produk asuransi jiwa term life dari beberapa perusahaan asuransi di Indonesia:

Keempat, banding-bandingkan beberapa produk asuransi untuk mendapatkan produk yang paling menguntungkan. Tidak seperti unit link atau asuransi lainnya yang mengandung unsur investasi, sama sekali tidak sulit untuk membandingkan beberapa produk term life.

Beberapa kriteria pemilihan yang perlu dipertimbangkan adalah:

  • Klausul guaranteed renewability. Klausul ini memastikan nasabah dapat memperpanjang perlindungan setelah kontrak berakhir tanpa syarat sama sekali dengan kenaikan premi seperti yang tertera dalam polis. Dengan klausul ini, perusahaan asuransi tidak berhak untuk memutuskan perlindungan jika misalnya nasabah menderita sakit keras. Hindari produk yang tidak memiliki klausul ini.
  • Harga premi, semakin rendah tentunya semakin menguntungkan. Tapi jangan terlalu terpaku pada harga premi pada saat pertama kali anda masuk asuransi. Bandingkan pula harga premi untuk tahun-tahun berikutnya. Prioritaskan evaluasi harga premi pada 10-15 tahun pertama.
  • Jangka waktu perlindungan, semakin rendah semakin baik. Ambillah asuransi term life dengan masa pertanggungan 5 tahun atau lebih kecil lagi. Jika memungkinkan ambillah masa pertanggungan 1 tahun, atau yang lebih dikenal dengan YRT/ART (yearly/annual renewable term). Karena adanya klausul guaranteed renewability, tidak menjadi masalah jika nasabah nantinya akan mengambil asuransi jiwa selama 20 tahun misalnya.
  • Perlindungan tambahan (rider). Tetapi tidak perlu mengambil manfaat kesehatan karena kemungkinan besar kita akan membutuhkan asuransi kesehatan lebih lama daripada asuransi jiwa. Sebaiknya manfaat kesehatan diambil secara terpisah jika memang diperlukan.

Kelima, setelah menjatuhkan pilihan, kita bisa membeli produk pilihan kita. Perusahaan asuransi akan melakukan proses underwriting yang mungkin melibatkan hal-hal seperti pemeriksaan kesehatan dan sebagainya.

Setelah menerima polis periksalah dengan seksama apakah polis tersebut sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Membeli Reksadana

Pertama, tentukan jenis reksadana yang akan kita beli. Jenis reksadana yang kita beli terutama ditentukan dari berapa lama kita membutuhkan uang yang saat ini kita tanamkan di reksadana. Selera setiap orang berbeda-beda, tetapi untuk pemula saya bisa beri saran sebagai berikut:

Kedua, untuk membeli reksadana, cukup datangi penjual reksadana, misalnya ke agen penjual reksadana atau perusahaan manajer investasi.

Agen penjual reksadana yang paling populer akhir-akhir ini mungkin adalah Bank Commonwealth. Pembelian reksadana di Bank Commonwealth bisa dilakukan secara praktis melalui Internet. Bank Commonwealth menjual puluhan produk reksadana dari berbagai manajer investasi. Untuk membuka rekening di Bank Commonwealth, dibutuhkan dana sebesar Rp 2 juta.

Alternatif lain adalah Bank Mandiri. Bank Mandiri juga menjual puluhan reksadana yang dapat dibeli melalui customer service di hampir setiap cabangnya.

Beberapa produk reksadana juga bisa dibeli secara langsung ke manajer investasinya tanpa melalui agen reksadana. Contohnya adalah Manulife, Trimegah, PNM dan Danareksa.

Pertimbangkan produk reksadana yang akan dibeli berdasarkan kriteria sebagai berikut:

  • Data perkembangan investasi historis
  • Biaya pembelian
  • Biaya penjualan
  • Biaya jasa pengelolaan investasi
  • Biaya minimal setoran pertama
  • Biaya minimal setoran selanjutnyas
  • Data lain-lainnya yang tertera pada prospektus reksadana yang bersangkutan

Terlalu rumit? Bagi pemula yang ingin berinvestasi untuk jangka panjang atau yang tidak ingin direpotkan dengan urusan investasi, saya pribadi menyarankan reksadana indeks. Reksadana indeks adalah subset dari reksadana saham yang dikelola secara pasif sehingga biaya jasa pengelolaan investasi menjadi minimal. Biasanya, dalam jangka panjang, performa reksadana indeks akan mengalahkan reksadana saham konvensional. Sayangnya reksadana indeks di Indonesia saat ini adalah ’spesies langka’. Satu-satunya produk indeks yang populer saat ini adalah Danareksa Indeks Syariah yang dapat dibeli melalui Bank Commonwealth maupun Sentra Investasi Danareksa.

Ketiga, nasabah bisa mengetahui perkembangan investasinya melalui beberapa cara. Beberapa manajer investasi akan memberikan laporan bulanan sehingga nasabah bisa mengetahui nilai investasinya. Selain itu data perkembangan investasi dari semua reksadana yang terdaftar di Indonesia dapat diketahui melalui beberapa media seperti Koran Tempo, Bisnis Indonesia (dapat pula dilihat di Internet) atau PortalReksadana.com.

Nasabah tidak perlu melihat informasi perkembangan investasinya setiap hari secara religius. Untuk jangka panjang, bagi investor kasual, satu tahun sekali sebenarnya sudah cukup.

Keempat, yang paling penting tentunya adalah menyetorkan dana untuk diinvestasikan ke reksadana. Hal ini tentunya harus dilakukan secara periodik. Beberapa penasihat keuangan memberi saran untuk menginvestasikan 10%-30% dari penghasilan keseluruhan secara rutin setiap bulannya.

Advertisements

Comments»

1. B Yudi K - December 28, 2007

Trimakasih informasi sangat membantu yang awam danareksa terutama tersedianya informasi lain yang dapat mendukung saya untuk mengetahui lebih lanjut.

2. yunita - January 6, 2008

mat siang..saya ingin tanyakan,, apakah kita investasi di unit link menguntungkan atau tidak.karna tahun pertam duit kita tidakm dialokasikan untuk pebelian unit.apakah seharusnya kita investasi langsung ke reksadana.mhn penjelasannya..

terimakasih

3. investasiku.biz - January 6, 2008

Yunita, kalo kamu ngerti reksa dana atau punya waktu untuk belajar tentang reksa dana, akan lebih menguntungkan jika langsung berinvestasi di reksa dana. Lebih untung lagi kalo langsung investasi di saham atau forex trading.

Kalo gak mau pusing, ambil saja asuransi jiwa unit link. Hasil investasinya memang tidak akan semaksimal reksa dana karena sebagian uang kita harus dialokasikan untuk membayar proteksi asuransi.

Tambahan keuntungan punya asuransi jiwa tradisional atau asuransi jiwa unit link adalah adanya tambahan proteksi penyakit kritis. Kalo kita sial dan kena sakit kritis yang perlu biaya Rp. 200 juta misalnya, siapa yang bakal bayar? Asuransi kesehatan dari kantor pun ada limitnya. Kalo kantor gak ada asuransi kesehatan, lalu kita bayar pake apa?

Asuransi jiwa dan investasi penting kedua-duanya. Asuransi jiwa unit link menggabungkan keduanya. Hasilnya memang tidak semaksimal kalo kita langsung terjun ke reksa dana. Tapi dengan biaya murah meriah hanya Rp. 350 ribu per bulan, kamu sudah bisa punya asuransi jiwa dan juga sedikit investasi.

4. esemelekete - January 7, 2008

kalo saya lebih seneng ikut dua2nya.. dari dulu saya memang sudah merencanakan mau investasi di mana aja.. pertama saya dulu ikut yang ada asuransi jiwannya.. memang selama 2 tahun duwit kita ilang buat biaya akuisisi tapi setelah itu duit kita murni di alokasikan ke investasi.. baru2 ini saya juga masuk ke danareksa sesuai rencana saya dulu..
dan yang pasti beberapa bulan ke depan saya ada rencana investasi ke emas.. soalnnya banyak yang kasih nasehat buat invest di ems nih.. 🙂

5. investasiku.biz - January 7, 2008

Berhubung reksa dana sekarang sudah makin gampang dan murah, memang baik untuk investasi di reksa dana juga. Kalo ngurus reksa dana segampang bikin polis asuransi, pasti reksa dana makin laku lagi.

Ibarat main sepak bola, asuransi adalah “barisan pertahanan”. Sedangkan reksa dana adalah “barisan penyerang” nya.

6. esemelekete - January 8, 2008

yup setuju ma bang investasiku… 🙂 btw kok linknya mati ya boss..??

7. investasiku.biz - January 8, 2008

Link bukan mati, Bos. Tapi suka kena masalah DNS (terutama kalo pake Speedy). Coba browsing pake OpenDNS dengan alamat server DNS berikut:

208.67.222.222
208.67.220.220

8. Komunitas Asuransi Indonesia - February 19, 2008

bagus artikelnya mas..

9. lola kola - March 7, 2008

terima kasih artikelnya bagus.
ada juga nih tambahan sedikit dari blog sebelah…

JANGAN PERNAH MENILAI RENDAH UANG PERTANGGUNGAN JIWA KITA

KONTRIBUSI PENGHASILAN KITA TERHADAP BESARNYA POLA KONSUMSI KELUARGA.

Telah banyak dibahas di dalam forum diskusi oleh para Perencana Keuangan tentang berapa besar sewajarnya yang harus kita tetapkan terhadap nilai pertanggungan jiwa atas diri kita bagi para ahli waris yang nantinya akan menerima penggantian nilai uang atas terjadinya musibah kematian (atau termasuk opsi cacat tetap total) yang menyebabkan kita sebagai pencari nafkah tidak bisa lagi memberikan nafkah bagi orang-orang yang kita nafkahi.

Dalam prinsip asuransi jiwa dinyatakan bahwa nilai pertanggungan jiwa adalah besaran nilai (uang) proteksi yang seharusnya ditetapkan oleh seorang calon nasabah yang besarnya harus sepadan dengan hilangnya nilai penghasilan yang selama ini dikonsumsi per bulan oleh kita sekeluarga dengan asumsi kita selaku pencari nafkah tunggal. Jika ternyata pasangan hidup kita ( bisa Istri atau Suami ) juga sebagai pencari nafkah, maka yang harus diproteksi adalah senilai padanan kontribusi penghasilan kita bagi pola konsumsi kita sekeluarga.

Asumsi dasar yang digunakan dalam pembahasan di sini adalah : Ahli Waris ( Istri / Suami / anak-anak ) kita tidak memiliki kemampuan dan keahlian bekerja yang sama dengan kita, sehingga jika diri kita meninggal (atau tambahan opsi cacat tetap total) maka Istri atau Suami serta anak-anak kita akan kehilangan porsi penghasilan sebesar kontribusi penghasilan kita terhadap porsi pola konsumsi yang selama ini kita kelola.

MATEMATIKA SEDERHANA PENENTUAN BESARNYA UANG PERTANGGUNGAN.

Matematika sederhananya dari nilai uang pertanggungan yang harus diproteksi ini sebagai berikut ;

I = C + S

I = besarnya income atau penghasilan

C = besarnya porsi konsumsi

S = besarnya porsi saving atau tabungan atau investasi

Di mana besarnya I, C, dan S akan bertambah setiap tahunnya.

Dalam pembahasan ini yang kita jadikan dasar adalah proteksi terhadap besarnya pola konsumsi keluarga per bulan dari penghasilan kita ( C ).

Porsi saving atau tabungan atau investasi ( S ) tidak dibahas di topik ini. Jadi terserah kita ingin memilih instrumen apa yang paling menguntungkan bagi kita. Bisa di Reksadana, Properti, Emas atau benda berharga lainnya, ataupun Portofolio.

Yang diasuransikan atau diproteksi adalah jiwa kita sebagai pencari nafkah.

Contoh jika dari total penghasilan kita per bulan terdapat bagian yang dipergunakan sebagai pola konsumsi sebesar Rp. 5 juta, maka nilai yang harus diproteksi adalah sebesar Uang Pertanggungan yang mampu menghasilkan return sebesar Rp. 5 juta per bulan juga. Di sini dengan asumsi Ahli Waris kita hanya bisa mengelola uang dengan cara mendepositokan Uang hasil klaim Pertanggungan Jiwa kita. Asumsi dipilih Deposito karena instrument investasi jenis ini adalah instrument yang relative lebih rendah resikonya dan memberikan tingkat return yang relative tetap.

Jika asumsi return per Tahun Deposito sebesar 6% bersih setelah dipotong Pajak, dan return per bulan harus sebesar Rp. 5 juta atau disetahunkan menjadi Rp. 60 juta, maka :

Return per Tahun = Rp. Uang Pertanggungan ( UP ) x 6% per Tahun

Rp. 60 juta = Rp. UP x 6%

Rp. UP = Rp. 60 juta / 6%

Rp. Up = Rp. 1 M

Dari matematika sederhana tersebut diperoleh kesimpulan bahwa kita sebagai calon nasabah asuransi yang mempunyai penghasilan yang pola konsumsinya per bulan sebesar Rp. 5 juta dan ingin memproteksi kemungkinan resiko kehilangan penghasilan akibat dari meninggal (atau termasuk opsi cacat tetap total) maka harus meminta proteksi asuransi yang memberikan Uang Pertanggungan Meninggal (atau termasuk opsi cacat tetap total) harus minimal Rp. 1 Milyard.

Kenapa harus minimal 1 Milyard, karena jika kurang dari 1 Milyard maka Ahli Waris kita akan mengalami penurunan pola konsumsi yang semula Rp. 5 juta per bulan.

Setelah kita tentukan Uang Pertanggungan sebesar 1 Milyard, maka kita akan dihitungkan berapa besar uang premi yang harus kita tanggung secara periodik. Jika sudah dihitungkan besarnya premi periodik oleh Perusahaan Asuransi yang kita pilih, maka itulah besarnya kewajiban periodik yang harus kita tanggung jika kita menginginkan mendapat imbal balik Uang Pertanggungan jika musibah itu tiba saatnya.

SUDAH TEPATKAH PILIHAN JENIS ASURANSI JIWA YANG KITA PILIH ?

Banyak yang menyarankan bahwa untuk memproteksi pola konsumsi seperti di atas kita disarankan untuk mengambil Jenis Asuransi Term Life katakanlah dengan masa pertanggungan 5, 10, 20, atau 30 tahun. Kenapa Jenis Asuransi Term Life, karena premi Asuransi Term Lite adalah yang paling murah.

Asumsi cara menghitung Uang Pertanggungan seperti di atas ternyata hanya bisa diaplikasikan terhadap kondisi perlindungan 1 (satu) tahun saja. Kenapa hanya 1 (satu) tahun saja, karena yang kita gunakan sebagai dasar perhitungan adalah potret dari porsi penghasilan yang kita gunakan sebagai pola konsumsi di tahun yang sama. Bagaimana jika musibah itu terjadi pada tahun ke 5, ke 10, atau ke 20 ?? Berarti kapanpun musibah itu akan terjadi, maka Ahli Waris kita harus kembali berpola konsumsi persis seperti pola konsumsi tahun pertama.

Bukankah setiap tahun pola konsumsi kita pasti naik sebesar minimal nilai inflasi per tahun ??

Bukankah kita selalu berdoa dan berusaha agar penghasilan kita juga meningkat setiap tahunnya ??

Jadi, jika Ahli Waris kita harus kembali berpola konsumsi persis seperti pola konsumsi tahun pertama, maka keadaan yang terjadi adalah bukan hanya sekedar stagnasi pola konsumsi, tetapi yang lebih parah lagi adalah ”tergerusnya” nilai pola konsumsi Ahli Waris kita.

Kenapa disebut ”tergerusnya” nilai pola konsumsi Ahli Waris kita, karena manfaat barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang sebasar Rp. 5 juta di tahun ini nilainya dapat dipastikan -baik secara kuantitas maupun kualitas- adalah lebih berharga ketimbang nilai dari barang dan jasa seharga sama Rp. 5 juta di 5, 10, 20, atau 30 tahun yang akan datang.

Dari kondisi tersebut maka pilihan asuransi jiwa jenis Term Life hanya bisa kita ambil dengan masa pertanggungan hanya 1 (satu) tahun. Awal tahun kedua kita harus memperbaharui lagi pertanggungan asuransi Term Life kita, yang Uang Pertanggungannya kita sesuaikan dengan bertambah besarnya pola konsumsi kita.

TIMBULNYA PERSOALAN BARU.

Persoalan baru pasti terjadi di sini. Perusahaan Asuransi Term Life pasti akan melakukan proses Underwriting baru terhadap kita untuk memotret profil resiko diri kita terhadap kemungkinan catatan kesehatan dan kondisi lain yang berhubungan dengan kemungkinan terjadinya resiko meninggal (atau termasuk opsi cacat tetap total). Dengan profil resiko yang pasti berubah tentunya premi periodik yang ditetapkan juga akan bertambah besar bila dibandingkan dengan premi tahun pertama. Ada juga Perusahaan asuransi term Life yang tidak melakukan proses Underwriting ulang terhadap setiap perpanjangan masa perlindungan, tetapi yang dapat dipastikan adalah besarnya premi periodik pasti lebih besar dari besarnya premi masa pertanggungan pertama.

Kalaupun kita yakin bahwa profil resiko kita adalah tetap (walaupun aturan di dunia asuransi jiwa pasti menganggap profil resiko kita pasti berubah), maka kita tetap harus menghitung pertambahan Uang Pertanggungan yang dapat memproteksi besarnya kenaikan pola konsumsi keluarga kita seiring dengan kenaikan inflasi dan seiring kenaikan penghasilan kita serta seiring bertambah besarnya pola konsumsi keluarga kita. Dengan Uang Pertanggungan yang semakin besar setiap tahun berarti besarnya premi periodik yang harus kita tanggung seharusnya juga semakin besar.

Kesimpulan dari kondisi premi yang semakin besar setiap tahunnya seiring dengan semakin besarnya Uang Pertanggungan yang kita proteksi, tentunya pilihan terhadap Jenis Asuransi Term Life adalah bukan pilihan termurah.

Bisa saja Jenis Asuransi Term Life tetap kita ambil, tetapi kita harus memproyeksikan dulu besarnya Uang Pertanggungan kita misal pada tahun ke 20 yang tentunya kita sesuaikan juga dengan Future Value besarnya penghasilan dan besarnya pola konsumsi di tahun ke 20. Future Value dari Uang Pertanggungan Tahun ke 20 tersebutlah yang harus kita proteksi. Jika hal ini yang kita lakukan maka jawabannya adalah premi periodik yang harus kita tanggung pasti mahal juga.

ASURANSI JIWA JENIS UNIT LINK.

Asuransi Jiwa Jenis Unit link secara kasat mata adalah jenis asuransi jiwa yang premi periodiknya adalah lebih mahal bila dibandingkan dengan Jenis Asuransi Jiwa Term Life. Apakah selalu seperti tersebut kondisinya jika kita menyertakan nilai pertumbuhan pola konsumsi keluarga yang besarnya pasti berubah seiring pertumbuhan inflasi dan pertumbuhan penghasilan kita ?

Secara umum dalam Asuransi Jiwa Jenis Unit Link, di dalam total premi periodik terdapat porsi premi proteksi dan porsi premi saver ( Top Up ). Porsi premi saver (Top Up) ini sebenarnya adalah tambahan dana yang diporsikan sebagai investasi Reksadana yang secara bundel dikelola oleh Manager Investasi yang berafiliasi dengan perusahaan asuransi.

Perlu diketahui bahwa berdasarkan definisi ’Premi’ asuransi jiwa di Indonesia yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Pemerintah dalam hal ini Departemen Keuangan Cq. Direktorat Jenderal Lembaga Keuangan adalah ’besarnya uang yang disetor oleh seorang tertanggung atau oleh pemegang polis atau oleh kontributor kepada perusahaan asuransi sebagai imbalan terhadap manfaat pertanggungan resiko yang dijanjikan akan diberikan oleh perusahaan asuransi jika kondisi resiko benar-benar telah terjadi di masa depan, syarat dan ketentuan berlaku.

Walaupun dalam perkembangannya kemudian lahir jenis Asuransi Unit Link, di mana atas total preminya terdapat porsi premi berkala (untuk proteksi resiko) dan porsi premi saver (Top Up) untuk tujuan tambahan dana investasi, tetapi tetap saja definisi ’premi’ tersebut belum dirubah sampai sekarang. Dengan kata lain, setiap setoran uang kepada perusahaan asuransi didefinisikan sebagai ’premi’.

Dalam pembahasan ini jangan sampai tertukar definisi ’premi’ dengan difinisi ’biaya asuransi’. Biaya Asuransi adalah komponen biaya yang terkandung dalam premi yang fungsinya dan dikelola untuk melindungi jika suatu manfaat perlindungan atau manfaat tambahan lainnya (riders) yang dipilih oleh seorang Tertanggung benar-benar telah terjadi di kemudian hari.

Selain biaya asuransi, di dalam premi terdapat juga komponen biaya-biaya lain seperti ; biaya pemeliharaan administrasi (termasuk biaya surat-menyurat, pembuatan dokumen, dan sejenisnya), biaya umum (gaji karyawan bagian underwriting, HRD, dan bagian-bagian lain, biaya utilitas, dan lain-lain). Komponen lainnya yang tidak kalah penting yaitu ’biaya akuisisi’ yang tujuannya untuk menyokong keuntungan dan keberlangsungan perusahaan asuransi serta untuk membayar gaji bagian pemasaran dan komisi agent.

Khusus untuk Asuransi Jenis Unit Link, karena ada porsi saver (Top Up) untuk tambahan dana investasi maka terdapat tambahan komponen biaya yaitu biaya pengelolaan investasi yang besarnya antara 0,75% sampai dengan 1,75% per tahun tergantung dari jenis investasi yang dipilih.

Semua jenis-jenis biaya asuransi tersebut di atas biasanya secara umum disebut ’biaya hangus asuransi’.

Periode masa pembayaran premi asuransi Jenis Unit Link relatif lebih pendek (biasanya 10 tahun), tetapi biaya hangus asuransi tetap sama dengan Jenis Asuransi Jiwa lainnya yaitu maksimal sampai usia tertanggung 99 tahun atau resiko meninggal (atau tambahan opsi cacat tetap total) benar-benar telah terjadi, mana yang lebih dahulu, atau sampai periode pertanggungan manfaat-manfaat tambahan (riders) yang dipilih berakhir.

Proses Underwriting atau seleksi profile resiko terhadap diri calon nasabah (calon tertanggung) Jenis Asuransi Unit Link biasanya hanya cukup sekali yaitu pada saat pertama kali pengajuan asuransi jiwa (dengan asumsi bahwa polis tidak pernah lapse kerena ketiadaan dana untuk membayar biaya hangus asuransi, dan/atau masa pertanggungan manfaat tambahan (riders) yang dipilih belum berakhir).

Kembali ke pokok persoalan, jika kita ingin menentukan besarnya Uang Pertanggungan Jiwa yang besarnya harus bisa memproteksi atas hilangnya porsi penghasilan yang diperuntukkan khusus untuk pola konsumsi keluarga kita, tentunya karena resiko meninggal (atau tambahan opsi cacat tetap total), maka kita harus memperhatikan juga besarnya pertumbuhan pola konsumsi itu sendiri setiap tahunnya seiring dengan laju pertumbuhan inflasi dan pertumbuhan penghasilan kita di masa depan.

Sudah sering para Ahli Perencana Keuangan Ternama dalam berbagai forum menerangkan dan menekankan, kalau kita mengambil suatu produk asuransi janganlah pernah memikirkan akan manfaat nilai tunai dari uang premi yang kita setor ke perusahaan asuransi.

Kalau kita mengharap dapat menggunakan manfaat nilai tunai hasil investasi dari premi asuransi sebagai tambahan penghasilan seperti layaknya hasil investasi di instrumen lainnya, maka harapan tersebut adalah salah sasaran. Seharusnya jika ingin berinvestasi maka jangan tempatkan uang anda pada premi asuransi, tapi tempatkan uang anda pada instrumen investasi lainnya seperti Reksadana, Properti, Emas dan benda berharga lainnya, atau dalam bentuk Portofolio.

PERBANDINGAN MANFAAT ASURANSI TERM LIFE DAN UNIT LINK.

Untuk lebih jelas dan berimbangnya perbandingan pilihan jenis asuransi yang diambil, yaitu antara jenis Asuransi Jiwa Term Life dan jenis Asuransi Jiwa Unit Link, maka terhadap keduanya harus diasumsikan relatif sama terlebih dahulu.

Perbandingan relatif ’Apple to Apple’ (meskipun jika jenis apelnya ternyata berbeda ya mohon maaf) antara Asuransi Jiwa Term Life dan Asuransi Jiwa Unit Link adalah sebagai berikut ;

§ Pertanggungan yang diambil adalah hanya pertanggungan dasar saja yaitu atas resiko meninggal dunia (atau tambahan opsi cacat tetap total) saja, tanpa mengambil manfaat-manfaat tambahan lain (riders).

§ Jenis Asuransi Unit Link semua premi dimasukkan dalam porsi premi untuk proteksi, tidak menggunakan porsi untuk premi saver (Top Up) untuk tambahan dana investasi (Tetapi sekali lagi mohon maaf, karena jenis apelnya memang berbeda, di unit link pada tahun ke 1 sampai tahun ke 5 tetap ada sebagian premi yang di alokasikan ke investasi, bahkan di tahun ke 5 atau tahun ke 6 keseluruhan premi di akan alokasikan ke investasi. Tentunya setelah dipotong dengan semua biaya hangus asuransi).

§ Biaya Akuisisi terhadap porsi premi saver (Top Up) dari Jenis Asuransi Jiwa Unit Link dapat dipastikan sama dengan 0%, karena tidak adanya porsi premi saver (Top Up) yang kita ambil.

§ Biaya hangus asuransi harus ditanggung sampai batas maksimal usia pertanggungan yang biasanya sampai usia 99 tahun atau jika resiko meninggal (atau tambahan opsi cacat tetap total) benar-benar telah terjadi, mana yang lebih dulu.

Berpedoman pada nasihat para Perencana Keuangan Terkenal tersebut, maka apapun jenis pilihan asuransi yang kita pilih, bahkan walaupun itu jenis Unit Link, ’manfaat nilai tunainya jangan pernah diambil’. Kenapa nilai tunainya tidak boleh diambil, karena nilai tunai tersebut harus bisa menjadi Penambah Uang Pertanggungan Jiwa jika kondisi resiko yang kita tanggungkan benar-benar telah terjadi.

Konsep inilah yang disebut sebagai ”Filosofi Dasar Asuransi Jiwa”. Premi asuransi harus dipandang sebagai uang hangus yang tidak akan kembali ke kita walaupun dalam Jenis Asuransi Unit Link akan terbentuk nilai tunai hasil kelolaan investasi yang tentunya sangat-sangat menggoda kita untuk menikmati sebagian atau bahkan seluruh nilai tunai tersebut. ”Asuransi adalah untuk Asuransi !!”

Bukankah besarnya Uang Pertanggungan Jiwa kita itu harus selalu bertambah besar setiap tahunnya seiring dengan laju pertumbuhan inflasi per tahun dan seiring pertumbuhan pendapatan dan seiring pertumbuhan besarnya pola konsumsi keluarga kita ?

Kondisi ”Selalu Bertambahnya Uang Pertanggungan Jiwa” inilah yang relatif tidak terakomodasi dengan simpel di Jenis Asuransi Term Life. Kenapa dikategorikan ’relatif tidak terakomodasi dengan simpel’, karena walaupun sebenarnya bisa juga mengakomodasi pertambahan uang pertanggungan jiwa, tetapi prosesnya akan sangat melelahkan dan bisa jadi total biaya premi sampai akhir masa pertanggungan jatuhnya akan lebih mahal (?? CMIIW).

Dalam pembahasan ini nilai tunai hasil kelolaan investasi dari Jenis Asuransi Unit Link harus dianggap sebagai ’mekanisme otomatis’ yang manfaatnya sebagai ’Penambah Uang Pertanggungan Jiwa’ yang setiap tahunnya pasti bertambah besar. Sehingga, jika resiko meninggal (atau tambahan opsi cacat tetap total) itu benar-benar telah terjadi di tahun ke berapapun maka besarnya Uang Pertanggunan yang akan diterima oleh Ahli Waris kita minimal adalah sepadan dengan laju pertumbuhan inflasi setiap tahunnya.

Jadi tingkat besarnya pola konsumsi Ahli Waris kita minimal tidak tergerus oleh meningkatnya harga barang dan jasa akibat laju pertumbuhan inflasi. (Asumsinya adalah pertumbuhan nilai tunai hasil kelolaan investasi dari premi unit link masih lebih besar dari pertumbuhan laju inflasi dan masih mencukupi untuk membayar semua biaya hangus asuransi, jika dianggap sudah hampir tidak mencukupi untuk membayar semua biaya hangus maka tertanggung atau pemegang polis atau kontributor diharuskan untuk membayar premi lagi atau minimal membayar biaya hangusnya saja secara periodik).

Jika pada kondisi makro ekonomi yang relatif aman dan ternyata return nilai tunai hasil kelolaan investasi unit link hasilnya lebih kecil dari pertumbuhan laju inflasi, maka disarankan kita untuk segera berpikir ulang apakah masih layak percaya terhadap Perusahaan Asuransi Jiwa Unit Link yang kita pilih. Tetapi kita tidak perlu terlalu takut terhadap Perusahaan Asuransi Jiwa Unit Link yang kita pilih, sebab tentunya kita hanya memilih Perusahaan Asuransi Unit Link papan atas hasil analisa para pakar analis asuransi, atau hasil analisa kalayak umum dan kita sendiri, bukan hasil bujuk rayu emosional belaka.

Pada perusahaan asuransi unit link papan atas, jika kondisi makro ekonomi relatif stabil dan ternyata return kelolaannya investasinya lebih rendah atau minimal relatif sama dengan laju inflasi, maka demi menjaga kemungkinan sebelum kita nasabah pemegang polis kabur, biasanya Manager Investasinya sudah dipecat terlebih dahulu.

Perlu diinformasikan juga disini, bahwa ternyata ada batasan Peraturan Pemerintah yang mengatur bagi Manager Investasi yang berafiliasi dengan Perusahaan Asuransi yang Berbadan Hukum Indonesia, yang intinya membatasi pengelolaan portofolio investasinya minimal 80% dari jumlah keseluruhan penempatan investasinya dilakukan di Pasar Modal di Wilayah Republik Indonesia saja. Sedangkan jumlah seluruh penempatan investasi di luar negeri tidak boleh melebihi 20% dari jumlah investasi.

Di sinilah letak keunggulan Jenis Asuransi Unit Link (?? CMIIW), dengan periode masa pembayaran premi yang relatif lebih pendek dan proses Underwriting atau proses seleksi profile resiko terhadap diri calon nasabah (calon tertanggung) relatif hanya sekali di awal pengajuan asuransi jiwa.

KESIMPULAN.

Dari pembahasan semua hal di atas, dengan asumsi ’Asuransi hanya untuk Asuransi !!’, masihkah kita menganggap bahwa Jenis Asuransi Term Life adalah pilihan paling ekonomis dan paling murah dan mudah bagi kita ?? Tentunya jawabannya berpulang kepada kita, apakah kita mau berualang-ulang menghitung besarnya Uang Pertanggungan Jiwa kita seiring dengan laju pertumbuhan inflasi dan seiring meningkatnya penghasilan serta seiring peningkatan besarnya pola konsumsi keluarga kita ??

”Jangan Pernah Menilai Rendah Uang Pertanggungan Jiwa kita !!”

HARAPAN DAN PERMOHONAN PENULIS.

Tulisan ini didedikasikan untuk open minded bagi kita semua, sehingga penulis sangat mengharapkan ; masukan, sumbangan pemikiran, kritik, bantahan, analisa ataupun opini dan lain-lain, dari siapapun yang merasa tahu akan duduk persoalan ini, yang oleh karenanya dapat menjadi bahan pencerahan bagi kita semua.

CATATAN KHUSUS :

Dalam pembahasan ini sangat perlu untuk ditegaskan lagi bahwa yang kita jadikan dasar adalah proteksi terhadap besarnya pola konsumsi keluarga per bulan dari penghasilan kita ( C ).

I = C + S

I = besarnya income atau penghasilan

C = besarnya porsi konsumsi

S = besarnya porsi saving atau tabungan atau investasi

Di mana besarnya I, C, dan S akan bertambah setiap tahunnya.

Porsi saving atau tabungan atau investasi ( S ) tidak dibahas di topik ini. Jadi terserah kita ingin memilih instrumen apa yang paling menguntungkan bagi kita. Bisa di Reksadana, Properti, Emas atau benda berharga lainnya, ataupun Portofolio.

Yang diasuransikan atau diproteksi adalah jiwa kita sebagai pencari nafkah.

Penulis :

Hidayat Putra Jaya

Telpon : 021 7090 7926

E-mail : hidayat_peje7@yahoo.com

Url. : http://www.keuanganku-hidayat-peje7.blogspot.com

: http://www.keuanganku.co.cc

10. esemelekete - March 10, 2008

wwiiihhhh mantabbbbbssssss…. makasih buat tambahan infonya.. 🙂

11. analisa forex USD/JPY - December 31, 2012

Howdy! Someone in my Myspace group shared this website with us so I came to look it over.
I’m definitely loving the information. I’m bookmarking and will be tweeting this to my followers!
Excellent blog and terrific style and design.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: